Pendidikan untuk Kebahagiaan

Pendidikan untuk Kebahagiaan

Ketika aku keluar dari pesawat udara dingin langsung menyambutku. Bulan Desember, Helsinki begitu dingin!. Akhirnya, aku  mengenakan jaket yang kubeli di Manchester dua hari yang lalu. Keluar dari Airport aku naik taksi Yellow Line menuju ke pusat kota, dengan membayar 30 euro akhirnya aku sampai Hotel Grand Marina. Hotel ini bekas gudang raksasa, oleh karenanya tidak heran kalau dari kamar-kamar hotel, kita bisa melihat pemandangan pantai dengan segala hiruk-pikuknya, termasuk kapal-kapal pesiar yang seolah parkir di depan mata.

Sampai di depan hotel, tampak terlihat sekumpulan orang, tamu hotel yang duduk-duduk santai di kafe terbuka di depan hotel dalam suasana yang penuh damai. Di bawah siraman cahaya keemasan matahari sore hari, mereka memanfaatkan suasana romantis itu dengan mengobrol, mencicipi kue ringan, lengkap dengan kopi yang masih mengepul. Tampaknya nikmat sekali. Angin menerpa bunga-bunga khas Eropa yang menghiasi beranda hotel, membawa udara sejuk. Sungguh sulit untuk di lupakan!!!

Setelah mendapatkan kamar, lalu mandi sejenak untuk sekadar menyegarkan badan dan menghilangkan penat, berganti pakaian, Setelah sholat maqrib aku keluar dari hotel ketika itu suasana dingin malam menyambutku, membuat aku semakin merapatkan kancing jaket sampai ke di ujung leherku dan kedua tanganku kumasukkan di dalam dua saku jaket. Sedikit nyaman!!!!. Malam ini aku ada janjian dengan Kyai Fulan untuk bertemu di gerai tidak jauh simpang jalan hotel Grand Marina. Ku langkahkan kakiku menuju simpang jalan yang ada diujung blok bangunan pertokoan. Sambil menoleh kekiri kekanan akhirnya gerai itu kutemukan!!! Sebuah gerai roti khas Finlandia. Ternyata Kyai Fulan sudah duduk di pojok gerai di samping jendela kaca besar. Aku masuk ke gerai itu terasa lebih hangat. Aku mendekatinya untuk mengucapkan salam, sambil memesan kentang khas rasa Finlandia dan segelas kopi ketal manis Tidak lama kemudian aku terhanyut dalam sebuah diskusi.

“Apa hubungan pendidikan dan industrialisasi, Kyai?”, tanyaku sambil kuletakkan tas ransel di kursi kulit sintetis sampingku.

“Proses industrialisasi membawa pengaruh dalam mengembangkan sistem pendidikan di suatu Negara”, jawab Kyai Fulan sambil minum kopi yang masih mengepul, seperti asap dupa yang baru di bakar menyelimuti wajahnya!!

“Maksudnya….?”, kataku minta penjelasan sambil ku ambil sepiring kentang dan kopi kental manis yang tadi kupesan di baki seorang pelayan setengah tua yang baru datang

“Kamu bisa lihat…pendidikan sekarang ini tidak lebih sebagai alat yang digunakan untuk mendeteksi… dan mengikuti apa yang diinginkan industrialisasi. Yang direfleksikan dari kerangka silabi, setumpuk referensi, metode pengajaran dan sistem penilaian…..!!!”, dengus Kyai Fulan sambil melihat wajahku dengan tatapan yang tajam. Seolah menuduhku mencuri, dan dia siap untuk mukulin!!

“….emm masalahnya apa…Kyai?”, sahutku mengelak dari tatapan matanya sambil kuraih segelas kopi kental manis untuk ku minum. Terasa hangat air kopi merambat di seluruh sendi tulangku!

“…Dalam hal ini pendidikan bukan menjadi intensitas independent dalam kehidupan manusia tetapi menjadi sebuah alat yang mefungsikan diri hanya sebagai jalan bagi manusia menghadapi industrialisasi….”, jawab Kyai Fulan sambil mengiris sepotong roti yang ada di depannya dengan pelan.

“…lalu apa makna pendidikan selanjutnya Kyai…?”, tanya ku lagi menganggu nikmat Kyai Fulan yang sedang mengiris roti.

“…Pendidikan memaknai segala fungsi manusia dan benda-benda sekitar kita, bila pendidikan digunakan untuk mengakomodasi kepentingan industrialiasi maka pendidikan akan memaknai fungsi manusia dan benda-benda sekitar kita seperti industrialisasi inginkan……Kemampuan manusiapun akhirnya mengikuti keinginan industrialisasi yang mengarah pada penyeragaman ….!!!”, jawab Kyai Fulan sambil memasukkan sepotong roti ke mulutnya.

“Lalu …?”, sahut aku sambil ku makan sepotong kentang hangat.

“…Oleh karenanya, pendidikan mengasumsikan bahwa manusia mempunyai kemampuan sama…. maka sama pula proses pembelajaran bagi mereka semua. Dampak dari proses ini adalah usaha untuk memberi peringkat di kelas-kelas, tanpa mempedulikan perbedaan potensi di antara anak didiknya….. Bagi yang tidak mampu bersaing akan terlindas dalam industrialisasi…. karena…pendidikan telah menjadi tangan kanan industrialisasi menjadikan mereka yang tidak mampu bersaing dianggap sebagai manusia yang tidak ada fungsi….”, jelas Kyai Fulan sambil menyeruput kopi kental yang ada di tangannya.

“…..begitu pentingkah makna dalam pendidikan?”, kataku sambil menyeruput nikmat kopi kopi kental manis khas Eropa itu.

“Pendidikan dalam konsep industrialisasi akan memberikan solusi bagi manusia pada pilihan-pilihan mekanistik….. Industrialisasi telah memenjarakan pada pemaknaan-pemaknaan baru…sehingga tingkat kesadaran manusia atas posisi di semesta terekayasa oleh kepentingan interpretasi industrialisasi…… “.

“Ehmmm…”, aku cuma mengangguk pelan

“Bila nama, istilah, dan simbol dimaknai secara mekanistik maka makna-makna ini akan mengikat manusia pada dunia baru yang serba materialistis…. Dalam dunia ini kehormatan manusia dihargai dari berapa besar materi yang dihasilkannya…. Kehidupan menjadi diskriminatif… dan makna diskriminasi dalam industrialisasi menjelma menjadi sesuatu yang tidak mengandung sensitifitas dalam ranah pemaknaanya…..karena diskriminasi adalah konswensi dari symbol kemajuan industrialisasi….”kata Kyai Fulan mengalir.

“Itu karena pendidikan hanya di gunakan untuk mendapatkan uang, Kyai”celetukku mengamini pernyataan Kyai Fulan.

“Karena…ukuran kebahagian dimaterikan, manusia bahagia tergantung dari quantitas materi yang dapatkan. Pendidikan telah mengajarkan berbagai strategi untuk mendapatkan kebahagian dengan target materi yang telah disesuaikan… dengan ilmu yang dipaketkan!! !….. Pendidikan akhirnya tidaklah meninggikan derajat menusia sebagai seorang hamba Allah (ubudiyyah) tetapi menimbulkan konsekuensi penindasan dengan dibungkus dengan kemodernan.. !!!”,kata Kyai Fulan menyeruput kopi lagi tanpa memandangkku seolah dia bicara dengan anggannya. Membuat aku merasa seperti batu di depannya!! !

“….Mengapa bisa menjadi seperti itu, Kyai?”,tanyaku sambil menatap wajahnya yang sedikit tua karena beberapa uban di kepalanya tumbuh rata.

“…Pendidikan saat ini lebih banyak menawarkan konsep “bagaimana cara berbuat (know how)” bukan “mengapa berbuat demikian (know why)” (Elements of Philosophy, Luois Katsoff, 1986)….. Dari sini kau bisa melihat bagaimana pendidikan membingkai anak didik sebagai mahluk pasif, bukanlah mahluk aktif yang dapat menidentifikasi, mengklasifikasi, dan meverifikasi dunia dalam imajinasinya….. Bila pendidikan mengabaikan manusia sebagai mahluk aktif maka pendidikan tidak akan mampu mengakomodasi keutuhan manusia atas kemanusiaannya..”.

” Apakah itu bermasalah, Kyai?” kataku mencari tahu.

“Pendidikan seperti ini akan mengarahkan manusia pada jalan yang serba pragmatis….karena dituntut untuk mendapatkan identitas atau gelar sebagai symbol keahlian dan keilmuwan dalam bidang tertentu namun…..tidak menyadari mengapa harus memiliki identitas seperti itu….. Identitas tidak akan menjawab masalah manusia bila identitas sendiri tidak menjamin manusia bisa memenuhi kebutuhan di tingkat idealitasnya…. karena identitas yang dihasilkan tidak didapatkan dari proses pendidikan yang seutuhnya…”.

“…Maksudnya…seutuhnya.” ”

“Yaitu pendidikan yang melibatkan aspek pasif dan aktif dari diri manusia sehingga manusia mampu memposisikan dirinya sebagai mahluk yang utuh. Keutuhan inilah yang akan mempengaruhi persepsi manusia atas dirinya terhadap semesta….. Keutuhan juga menjadi titik tolak bagi manusia membebaskan diri belenggu yang menyekat fitrahnya”.

“… Apa sesungguhnya tujuan pendidikan kalau begitu?”, tanyaku sambil memegang erat gelas yang masih hangat untuk membuat tangan yang masih kedinginan menjadi nyaman.

“Tujuan akhir pendidikan adalah bagaimana manusia mendapatkan kebahagiaan sejati….. Kebahagian tidak akan didapat bila ia selalu menjauhi fitrahnya. Manusia tidak akan mendapatkan fitrah yang dimiliki bila selalu menjauhi apa yang Allah kehendaki. Pendidikan dalam Islam selalu melibatkan kehendak Allah dalam memposisikan hidup manusia (Concept of Education, Naquib Alatas, 1999)…. Oleh karenanya pendidikan merupakan pengenalan dan pengakuan, yang diajarkan secara progresif kepada manusia, mengenai tempat yang sebenarnya dari segala sesuatu dalam tatanan ciptaan yang mengarah pada pengenalan dan pengakuan tempat yang patut bagi Allah dalam tatanan wujud dan eksistensi…”kata Kyai Fulan dengan suara yang berat

“Bagaimana kita bisa mendapatkan itu, Kyai? “kataku mengejar

“Islam sebagai din mempunyai peran pengingat peristiwa perjanjian primordial antara Allah dan manusia…… Manusia diingatkan kembali akan fitrahnya sebagai seorang hamba dengan spesifikasi potensi tertentu setiap individunya. Sudah ada janji sebelumnya antara manusia dengan Allah yang membawa konsekuensi pada kelahiran seorang manusia yang ideal dengan karakter keilmuwan yang khas….. Allah kembali mengingatkan janji manusia tersebut melalui ajarannya yang kita bisa implisitkan lewat pendidikan (Islam dan Secularism, Naquib Alatas, 1993)……”

“Lalu…?”kataku menunggu sambil kuambil sepotong ketang lagi yang mulai dingin

“Oleh karenanya sebagai pengingat pendidikan memiliki tanggung jawab meletakkan kembali manusia pada tempatnya sebagai manusia….. Bukan benda yang berkarakter sebagai objek dari kemajuan industrialisasi…. Jadi industrialisasi adalah refleksi dari spektrum manusia sebagai mahluk yang memiliki posisi tinggi bukan sebaliknya…. Sebenarnya pendidikan Islam adalah mengajarkan dan memperkenalkan adab kepada seorang manusia. Adab adalah memposisikan diri sendiri dalam suatu sistem yang terdiri dari tingkatan (maqamat) dan level (maratib) (Concept of Education, Naquib Alatas, 1999)…”.

“Pengenalan adab…?”

“Pendidikan merupakan proses penyadaran manusia atas posisinya sebagai manusia!!!. Hal ini mengandung berbagai konsekwensi dari pembentukan sistem pendidikan, seperti dalam proses belajar mengajar. Guru dan murid memiliki peran sebagai ‘penikmat’ ilmu dalam visi spiritual…… Mereka saling menghormati karena tuntutan kemanusiaannya untuk mendapatkan penyadaran. Jadi proses untuk mendapatkan ilmu atau pendidikan, membangun karakteristik ilmu yang diperoleh manusia…… Oleh karenanya tujuan pendidikan dalam Islam tidak akan meninggalkan prosesnya agar timbul penyadaran akan posisi manusia sebagai hamba Allah (ubudiyyah) dan ciptaan-Nya (ruhubiyyah)…”

“Bagaimana bisa?”

“…Bila manusia mampu membawa dirinya kepada fitrahnya, membawa dirinya kepada level penghambaan sebagai manusia dan menaruh posisi dirinya dalam kekuasaan-Nya maka mereka akan beruntung sehingga mereka mendapatkan kebahagian sejati…”

“Kebahagiaan sejati!!!, kebahagian macam apa itu, Kyai?”tanyaku memohon

“Bukankah tujuan hidup menusia menjadi orang yang berbahagia?… Kebahagiaan adalah keyakinan yang membuahkan ketenangan hati (The Meaning and Experience of Happiness in Islam, Naquib Alatas, 2001)…… Keyakinan terjadi ketika manusia bisa melihat jelas segala unsur dari segala eksistensi yang ada di dalam dirinya dan ada di objek yang di lihat…… Selanjutnya manusia mampu meletakkan pada kemaujudan dirinya sebagai subjek di semesta!”. Kata Kyai Fulan sambil meneguk tetesan akhir copi yang tersisa di gelasnya.

Aku cuma mengangguk-angukkan kepala. Waktu seolah merayap cepat tidak terasa sudah pukul 18.00. Setelah sampi di Indonesia, aku dan Kyai Fulan berjanji ketemu lagi di Yogyakarta. Pada pukul 18.15, akhirnya kami berpisah, sebelumnya Kyai Fulan menawarkan kepadaku untuk tinggal di penginapannya. Tapi aku menolak!. Kemudian aku melanjutkan perjalanan menyelusuri malam di sudut-sudut kota Helsinki. Sekitar pukul 16.00, aku membeli karcis 14 euro untuk menaiki feri, berkeliling di seputar pelabuhan Selatan selama satu setengah jam. Berputar-putar menikmati keindahan warna lampu kota dari lautan dan keelokan alunan air yang tepias oleh cahaya bulan di sepanjang bibir pantai. Helsinki menimbulkan kembali kerinduan!.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: