Sejarah Fiqh Islam

Jika Islam telah mempunyai sumber asasi yang terdiri dari Al Quran dan Sunnah, maka mengapa timbul fiqh? Tidakkah pengaturan hukum dalam masyarakat Islam sudah cukup dengan Al Quran dan Sunnah saja?

Sebenarnya masyarakat Islam sudah cukup berpegang dengan Al Quran dan Sunnah saja. Allah Ta’ala sendiri telah menjamin kemampuan Al Quran mengatur berbagai persoalan manusia :

“Kami wahyukan Al Quran kepadamu (Muhammad) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (An Nahl : 89)

Namun para ulama menjelaskan bahwa maksud Al Quran “menjelaskan segala sesuatu” ialah Al Quran menjelaskan pokok-pokok hukum atau pedoman umum hukum saja, bukan segala sesuatu tentang secara terperinci. Karena Al Quran hanya menyebutkan hukum peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa Rasulullah Muhammad saw saja. Namun demikian Al Quran juga mampu mengatasi hukum peristiwa-peristiwa yang baru terjadi setelah Rasulullah Muhammad saw wafat dengan cara menyebutkan pedoman-pedoman umum saja.

Adalah tidak mungkin kiranya Al Quran menyebutkan peristiwa demi peristiwa dan hukumnya satu persatu hingga hari kiamat, mengingat peristiwa-peristiwa itu akan selalu terjadi sehingga tidak terbatas. Setiap saat akan timbul peristiwa baru. Jadi yang paling tepat ialah menyiapkan pedoman-pedoman. Penerapan pedoman-pedoman umum tersebut sangat memerlukan mujtahid.

Pedoman itulah yang dijelaskan Rasulullah Muhammad saw dalam sabdanya bahwa ia mewariskan dua hal yaitu Kitab Allah (Al Quran) dan Sunnah Rasul Allah saw. Selama masyarakat Islam berpegang teguh dengan keduanya, maka mereka tidak akan sesat. Penjelasan ini menunjukkan tingginya kemampuan Al Quran dan Sunnah dalam mengatur masyarakat Islam.

Setelah Rasulullah Muhammad saw wafat terjadi perubahan besar terutama mengenai sumber hukum. Jika hukum-hukum kejadian di masa Rasulullah Muhammad saw masih hidup mendapat penjelasan langsung dari wahyu baik Al Quran maupun Sunnah, sehingga tidak ada kejadian tanpa penjelasan hukumnya secara rinci, maka setelah Rasulullah Muhammad saw wafat terjadi perubahan, dimana para Sahabatlah yang harus mempelajari hukum berbagai kejadian baru setelah Rasulullah Muhammad saw wafat.

Untuk itu para Sahabat harus mempelajari hukumnya dalam Al Quran dan Sunnnah. Pada umumnya, penjelasan Al Quran dan Sunnah mencakup prinsip-prinsip umum. Redaksinya sangat fleksibel, sehingga mampu memecahkan hukum berbagai peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah saw wafat. Para Sahabat yang menetapkan hukum-hukum peristiwa demi peristiwa yang terjadi pada masa mereka dengan berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah adalah tenaga yang disebut mujtahid. Sedangkan hasil pembahasan mereka berupa hukum-hukum disebut fiqh.

Ringkasnya, masyarakat Islam setelah Rasulullah Muhammad saw wafat perlu kepada mujtahid dan fiqh.

Sejarah fiqh Islam membuktikan bahwa fiqh dalam Islam tidak lahir secara kebetulan, tetapi telah direncanakan oleh Islam sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat kepada hukum, dan sekaligus menjaga kelestarian fungsi Islam itu sendiri sebagai pembimbing masyarakat Islam. Sejarah fiqh Islam telah melalui beberapa fase.

Pada Masa Rasulullah Muhammad saw

Sejak ayat Al Quran yang diwahyukan pertama kali kepada Rasulullah Muhammad saw telah terlihat dengan jelas arah risalah Rasulullah Muhammad saw, yaitu membawa manusia menuju Allah Ta’ala. Karena itu tidaklah heran jika sumber hukum pada masa Rasulullah Muhammad saw hanya satu yaitu wahyu dari Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya Muhammad saw. Wahyu tersebut terbagi kepada dua bagian, yaitu Al Quran dan Sunnah (Hadis) Rasulullah Muhammad saw.

Masyarakat Islam ketika itu mengetahui hukum-hukum dari Rasulullah Muhammad saw secara langsung. Meskipun demikian, Rasulullah Muhammad saw telah menyiapkan sejak dini apa yang harus dilakukan orang Islam ketika perlu mengetahui hukum suatu peristiwa dan ia tidak dapat menanyakannya langsung kepada Rasulullah Muhammad saw, baik karena berada jauh dari padanya atau setelah ia wafat. Keadaan tersebut pasti akan dialami masyarakat Islam. Rasulullah Muhammad saw menjelaskan metode untuk mengetahuinya ialah ijtihad. Metode ini dijelaskannya dalam beberapa hadis, di antaranya dalam sabdanya :

“Apabila Hakim berijtihad untuk menetapkan putusan dan hasil ijtihadnya benar, ia diberi dua ganjaran (ganjaran buat ijtihadnya dan kebenaran hasilnya). Tetapi jika berijtihad dan hasil ijtihadnya keliru, maka ia diberi satu ganjaran saja (ganjaran buat ijtihadnya saja).”

Banyak sumber yang menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad saw menguji sebagian sahabat tentang metode tersebut, seperti yang tersebut dalam dialognya dengan Mu’adz bin Jabal ketika akan diutusnya ke Yaman sebagai Qadi.

“Rasulullah saw bertanya kepada Mu’adz : ‘Jika dikemukakan kepada anda suatu perkara, maka dengan apakah putuskan?’ Mu’adz menjawab : ‘Dengan penjelasan-penjelasan yang dikemukakan dalam Al Quran.’ Rasulullah bertanya lagi : ‘Bagaimana jika anda tidak menemukannya dalam Al Quran?’ Mu’adz menjawab : ‘Saya putuskan menurut penjelasan-penjelasan dalam Sunnah Rasulullah.’ Rasulullah bertanya lagi : ‘Bagaimana jika anda tidak menemukannya dalam Sunnah?’, ‘Aku akan berijtihad dan tidak akan menyerah.’ Rasulullah saw gembira terhadap penjelasan Mu’adz tersebut, dan Rasulullah bersabda : ‘Pujian setinggi-tingginya bagi Allah yang telah melimpahkan taufiq yang sesuai dengan apa yang diridhai Allah dan Rasul-Nya kepada utusan Rasulullah.’.”

Arti ijtihad ialah pengerahan maksimal kemampuan dari mujtahid (pelaku ijtihad) untuk mengetahui hukum Allah Ta’ala tentang suatu kejadian.

Ijtihad itu telah diterapkan di masa Rasulullah Muhammad saw baik oleh Rasulullah Muhammad saw sendiri maupun oleh sebagian sahabatnya. Namun ijtihad tersebut belum berfungsi sebagai cara terakhir untuk mengetahui hukum Islam, karena pada akhirnya masih kembali kepada koreksi dari wahyu Allah Ta’ala.

Adanya praktik ijtihad di masa Rasulullah Muhammad saw menunjukkan bahwa perjuangan Rasulullah Muhammad saw selama sekitar 20 tahun bukan sekedar menyebarkan Islam, tetapi juga membina ahli hukum yang mampu memecahkan hukum berbagai kejadian baru dalam masyarakat Islam sesudah Rasulullah Muhammad saw wafat.

Ringkasnya, masa Rasulullah Muhammad saw tidak mungkin dipandang sebgai masa ijtihad fiqh atau termasuk sebagai salah satu fase perkembangan fiqh, menurut pengertiannya yang cermat, karena Rasulullah Muhammad saw masih ada. Meskipun demikian praktik ijtihad fiqh yang terjadi di masa ini tidak mungkin dilenyapkan dari sejarah perkembangan fiqh, karena ijtihad yang dilakukan pada fase ini merupakan asas dan prinsip yang akan dijadikan mujtahid sebagai dasar untuk melakukan ijtihad pada masa-masa sesudahnya.[1]

Pada Masa Khulafaurrasyidin

Pada masa ini banyak terjadi peristiwa-peristiwa baru yang memerlukan kepastian hukum, apalagi Islam semakin tersebar luas sampai melampaui batas-batas semenanjung Arabia. Kenyataan ini mengharuskan para sahabat mengkaji hukum-hukumnya, karena Rasulullah Muhammad saw telah wafat. Rasulullah Muhammad saw pernah menegaskan kepada para sahabatnya :

“Saya wariskan kepada kamu dua hal. Selama kamu berpegang teguh dengan kedua hal tersebut, maka tidak akan sesat. Kedua hal tersebut ialah Kitab Allah (Al Quran) dan Sunnah Rasul Allah saw.”

Menurut penelitian Ibnu Al Qayyim, tidak kurang dari 130 laki-laki dan perempuan dari sahabat di masa ini yang pernah memberikan fatwa,[2] artinya memberikan pendapat tentang hukum.

Di masa ini tampak dengan jelas metode mereka dalam menetapkan hukum adalah melanjutkan apa yang diuraikan dalam dialog antara Rasulullah Muhammad saw dan Mu’adz, yaitu merujuk Al Quran dan Sunnah. Apabila tidak ditemukan dalam keduanya mereka gunakan ijtihad.

Ini terlihat dengan jelas dalam metode Abu Bakar Ash Shiddiq dalam menyelesaikan perkara. Pertama-tama ia meneliti penyelesaiannya dalam Al Quran. Jika ditemukannya dalam Al Quran ia putuskan menurut Al Quran. Jika tidak ditemukannya dalam Al Quran dan ia tahu ada Sunnah Rasulullah saw yang menjelaskan penyelesaiannya, ia putuskan menurut Sunnah Rasulullah saw. Jika ia tidak mengetahuinya ia kemukakan kepada sahabat-sahabat perkara yang diajukan kepadanya dan menanyakannya apakah mereka mengetahui Sunnah yang menyelesaikan perkara yang diajukan kepadanya tersebut. Jika ada yang mengetahui Sunnah tentang perkara yang diajukan kepadanya ia putuskan berdasarkan Sunnah. Jika tidak ada pula ia musyawarah dengan pemuka-pemuka sahabat. Jika mereka mencapai kata sepakat, ia putuskan menurut kesepakatan mereka.[3]

Umar bin Khaththab melaksanakan hal yang sama. Pertama-tama ia meneliti penyelesaiannya dalam Al Quran. Jika ditemukannya dalam Al Quran ia putuskan menurut Al Quran. Jika tidak ditemukannya dalam Al Quran dan ia tahu ada Sunnah Rasulullah saw yang menjelaskan penyelesaiannya ia putuskan menurut Sunnah Rasulullah saw. Jika tidak ada pula ia kemukakan perkara yang diajukan kepadanya kepada sahabat-sahabat dan menanyakannya apakah mereka mengetahui Sunnah yang menyelesaikan perkara yang diajukan kepadanya tersebut. Jika ada Sunnah ia putuskan berdasarkan Sunnah. Jika tidak ada Sunnah ia kembangkan rujukannya dengan mempelajari putusan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebelumnya. Jika ada putusan Abu Bakar ia putuskan seperti putusan Abu Bakar. Jika tidak ada ia musyawarah dengan pemuka-pemuka sahabat. Jika mereka mencapai kata sepakat, ia putuskan menurut kesepakatan mereka.[4]

Merujuk putusan Abu Bakar tidak selalu berarti menunjukkan bahwa putusan Abu Bakar mengikat Umar bin Khaththab, namun merupakan suatu sikap yang sangat wajar.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa rujukan fatwa mereka ada empat yaitu Al Quran, Sunnah, Ijma’, dan ijtihad dengan ra’yu.[5]

Penggunaan ra’yu untuk menetapkan hukum tidak dapat dihindari sahabat, mengingat peristiwa-peristiwa baru semakin banyak terjadi, sementara teks-teks Al Quran dan Sunnah yang menjadi sumber asasi Syariat Islam tidak bertambah lagi setelah Rasulullah Muhammad wafat, sehingga mereka harus menimba berbagai hukum dari sumber tersebut.

Ijtihad-ijtihad di masa ini menghasilkan pendapat-pendapat mengenai hukum Syariat tentang berbagai kejadian. Pendapat sahabat-sahabat tentang hukum peristiwa yang terjadi itulah disebut fiqh. Di antara contohnya ialah :[6]

  1. Pemilihan Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai Khalifah.
  2. Memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat.
  3. Hukuman mati atas dua orang karena membunuh satu orang.

Ijtihad-ijtihad di masa ini mulai memunculkan perbedaan-perbedaan pendapat antara sahabat, karena beberapa faktor, di antaranya :

  1. Perbedaan dalam memahami maksud ayat Al Quran, karena terdapat dua ayat yang tampaknya saling bertentangan atau ada kata yang mengandung dua pengertian.
  2. Perbedaan perbendaharaan pengetahuan Sunnah Nabi saw.
  3. Perbedaan dalam metode ra’yu seperti qiyas atau lainnya.

Meskipun demikian perbedaan=perbedaan pendapat masih kecil karena beberapa sebab di antaranya ada prinsip musyawarah, masih terbatasnya riwayat hadis, terbatasnya kejadian baru, dan berhati-hati dalam memberikan fatwa, sehingga mereka lebih mengutamakan tidak berfatwa.

Meskipun fiqh itu sendiri sudah ada pada masa ini namun belum terdapat uapaya mengkodifikasinya.

Akhir Masa Khulafaurrasyidin Hingga Awal Abad ke-2 Hijrah

Rujukan penetapan hukum pada masa ini seperti pada masa sebelumnya yaitu Al Quran, Sunnah, Ijma’ dan ra’yu. Namun prinsip musyawarah antara para ahli hukum Islam mulai mengalami kendala karena beberapa faktor, di antaranya semakin tersebar luas mereka di wilayah-wilayah Islam, sesuai dengan semakin luasnya wilayah Islam. Kemudian perpecahan masyarakat Islam mengenai khilafah menjadi tiga golongan yaitu khawarij, syi’ah dan mayoritas yang moderat merupakan kendala yang serius dalam sejarah fiqh Islam secara khusus. Perpecahan ini berpengaruh besar dalam bidang ilmu fiqh, karena masing-masing mengutamakan kelompoknya.

Dalam kelompok mayoitas yang moderat tumbuh dua macam metode penetapan hukum-hukum fiqh, yaitu ahlu al hadis (cenderung berpegang pada teks hadis) dan ahlu ar ra’yu (berpegang pada hadis juga, namun di samping itu banyak menggunakan qiyas).

Di masa ini juga timbul kegiatan pembuatan hadis-hadis palsu, sehingga mengharuskan para ahli hadis berupaya membersihkan riwayat-riwayat hadis dari pemalsuan. Sehingga pengkajian fiqh semakin sulit. Kenyataan di atas mempersubur perbedaan pendapat dalam bidang fiqh.

Awal Abad ke-2 Sampai Pertengahan Abad ke-4

Kegiatan pengkajian fiqh mencapai puncaknya di masa ini, karena beberapa faktor, di antaranya perhatian pemerintah terhadap fiqh dan para ahli fiqh, kebebasan berpendapat, kegiatan diskusi, banyaknya kejadian-kejadian baru, luasnya pengetahuan tentang bangsa-bangsa lain, dan kodifikasi ilmu pengetahuan. Pada masa ini menonjol tidak kurang dari 13 mujtahid, di antaranya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hambal. Hasil pemikiran mereka masih berpengaruh sampai sekarang di seluruh penjuru dunia Islam.

Pertengahan Abad ke-4 Hijrah Sampai Jatuhnya Baghdad Tahun 656 H

Masyarakat Islam di masa ini semakin terpecah belah ke dalam beberapa wilayah, masing-masing mempunyai Amirulmukminin sendiri. Keadaan tersebut membuat masyarakat Islam menjadi lemah dan mundur, karena banyak kekacauan dan kerusuhan, seperti antara pendukung Abbasiah dan Fathimiyah dan juga antara negara-negara Islam sendiri. Pada akhir abad ke lima Hijrah pasukan Salib mulai bergerak sampai terjadi peperangan besar.

Meskipun banyak ahli fiqh yang tetap aktif, namun keadaan tersebut mempengaruhi aktifitas ilmu pengetahuan dan secara perlahan-lahan memperlemah semangat kebebasan berpikir di kalangan ulama dan masyarakat, dan selanjutnya mendorong semangat taklid dan fanatik dengan mazhab tertentu.

Meskipun demikian masih terdapat juga kegiatan-kegiatan pengembangan hukum-hukum fiqh yang berarti, walaupun terbatas dalam lingkaran mazhab tertentu seperti menghimpun riwayat hadis dan pendapat para ahli fiqh terdahulu, meneliti riwayat dan pendapat yang kuat argumennya, diskusi dan meneliti argumen, mengarang buku-buku fiqh perbandingan mazhab, sehingga pendapat, argumen dan analisa argumen dari masing-masing mazhab menjadi lebih jelas. Sejalan dengan suburnya mazhab, maka perbedaan metode ijtihad semakin menonjol di masa ini.

Ringkasnya, aktifitas ahli fiqh pada masa ini berkisar pada tiga hal saja, yaitu :

Menganalisa sebab ditetapkannya suatu hukum, seperti sebab ditetapkannya wajib zakat pada buah kurma.

Menetapkan pendapat yang dipandang terkuat.

Membela mazhab.

Pertengahan Abad ke-7 Hingga Sekarang

Masa ini terbagi kepada dua bagian :

Pertama, berakhir pada awal abad ke sepuluh. Di masa ini lahir banyak ahli fiqh terkemuka seperti Ar Ramli, Suyuthy, dan lain-lain. Sayangnya keahlian fiqh mereka terarah kepada mengarang.

Kedua, dari abad ke sepuluh hingga sekarang. Keadaan fiqh masih memprihatinkan, karena aktifitas ahli fiqh lebih terarah kepada mempelajari buku-buku fiqh yang ada, terputusnya hubungan antara ahli-ahli fiqh, dan kurang sistematisnya buku-buku fiqh.

Setelah kemunduran-kemunduran yang diuraikan di atas, studi fiqh mulai mendapat semangat dan pandangan baru pada abad ke 20 M setelah dipelopori pusat-pusat studi fiqh di dunia, di antaranya Al Azhar di Kairo, lembaga penelitian fiqh di Saudi Arabia, dan lain-lain. Di antara pandangan baru ialah :

Semua mazhab fiqh, pada hakikatnya, bersumber dari Al Quran dan Sunnah.

Perlu memperkecil perbedaan-perbedaan pendapat antara mazhab-mazhab fiqh.

Upaya-upaya ini mulai tampak dalam kegiatan-kegiatan :

Merubah undang-undang dan peraturan-peraturan Islam yang berdasarkan mazhab tertentu dengan memperhatikan pendapat beberapa mazhab yang diakui dalam masyarakat Islam, setelah mempelajari argumen dan metode penetapan hukum dari setiap argumen.

Mewajibkan mata kuliah fiqh perbandingan antara beberapa mazhab fiqh buat memperluas wawasan para mahasiswa tentang latar belakang pendapat dalam berbagai mazhab fiqh dan melenyapkan fanatisme mazhab. Untuk ini perlu memperkuat mata kuliah Ushululfiqh, sebuah ilmu yang menganalisa metode penetapan huum-hukum fiqh.

Mewajibkan mata kuliah sejarah fiqh Islam agar mahasiswa dapat memahami sejarah dan perkembangan pemikiran dalam fiqh Islam serta latar belakangnya. Dengan mata kuliah ini diharapkan akan dapat melenyapkan kebimbangan mahasiswa dalam menghadapi berbagai pendapat mazhab fiqh dan selanjutnya akan mampu menganalisa pendapat-pendapat tersebut secara netral.

Memperluas penerangan tentang mazhab-mazhab fiqh dalam masyarakat untuk memperluas wawasan tentang mazhab-mazhab fiqh dan latar belakangnya.

Dari sini jelaslah bahwa fiqh adalah hasil pemikiran para mujtahid tetapi berpijak dan berpedoman pada dalil-dalil (argumen hukum.

Orang yang menyamakan antara “syariat” dan “fiqh” adalah keliru. Karena, syariat, seperti dijelaskan di atas, adalah hukum-hukum yang disyariatkan Allah Ta’ala untuk hamba-hamba-Nya yang disampaikan oleh Rasul-Nya Muhammad saw. Adapun fiqh adalah zhan (dugaan kuat) yang dicapai mujtahid[7] sebagai hasil pemahamannya dari apa yang disampaikan Rasul-Nya Muhammad saw, baik dari Al Quran atau Sunnah.

Rasulullah Muhammad saw telah memperingatkan sejak dini hasil pemikiran mujtahid tersebut mungkin benar dan mungkin keliru. Namun Rasulullah saw tidak menjadikan kemungkinan keliru tersebut sebagai alasan untuk menutup pintu pemikiran para mujtahid, karena masyarakat Islam memerlukan pemikiran para mujtahid.





[1] Dr. Muhammad Salam Madkur, Manahij Al Ijtihad Fi Al Islam, (Kuwait : Univ. Kuwait), hal. 43

[2] Ibnu Al Qayyim, I’lam Al Muwaqqi’in, (Kairo : Dar Al Kutub Al Haditsah), I, hal. 12

[3] Ibid., I, hal. 57, Ali As Sais, Tarikh Al Fiqhi Al Islamy, (Makkah : Dar Ihya’ At Turats), hal. 44

[4] Ibid.

[5] Ali As Sais, Tarikh Al Fiqhi Al Islamy, (Makkah : Dar Ihya’ At Turats), hal. 44

[6] Ibid., hal. 52

[7] Mahalli, Syarh Al Mahalli ‘Ala Matan Jam’I Al Jawami’, bersama ulasannya oleh Bannani, (Kairo : ‘Aisi Al Halbi), I, hal. 45

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: