MEMBANGUN CINTA KEPADA SESAMA MELALUI ZIS

Kamis, 16 Oktober 2008

Oleh: KH. Didin Hafidhuddin

(Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional)

بسم الله الرحمن الرحيم

Salah satu ciri utama dari orang-orang yang beriman, adalah memiliki kecintaan dan kepedulian kepada sesama saudaranya. Seorang mukmin yang baik tidak mungkin berpangku tangan dan berdiam diri, apabila melihat tetangganya yang mendapatkan kesulitan, kelaparan, kesusahan, dan lain sebagainya. Rasulullah Saw. menyatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: ”Seseorang tidak dikatakan beriman (tidak sempurna imannya), sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Dalam sebuah hadits yang lain, Rasulullah Saw. Bersabda: “Rasulullah Saw. bersabda: “Engkau lihat orang-orang mukmin dalam keadaan saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyayangi, seperti satu tubuh. Apabila sala satu anggauta tubuhnya sakit, maka anggauta tubuh lainnya akan merasakan panas dingin (demam)”. (HR. Bukhari).

Persoalan kecintaan merupakan persoalan yang sangat esensial, bukan sekadar dalam perspektif agama, akan tetapi juga berkaitan dengan perspektif hubungan sosial dan kemanusiaan. Allah SWT menurunkan al-Qur’an kepada manusia atas dasar cinta dan kasih sayang-Nya. Demikian pula, Allah SWT memberikan rizki-Nya kepada manusia pun, atas dasar cinta dan kasih sayang-Nya, yaitu tercermin dalam sifat Rahman dan Rahim-Nya, yang di dunia ini hanya satu persen saja yang Ia turunkan dan limpahkan kepada makhluq-Nya. Dan dengan satu persen dari rahmat-Nya tersebut, seorang ibu mau bersusah payah untuk menyusui anaknya, seekor binatang pun mau menjaga dan memelihara anak-anaknya, demikian pula yang lainnya. Bayangkan oleh kita di syurga kelak, bagaimana bentuk kecintaan Allah SWT yang berjumlah 99% itu diberikan kepada kita semua (al-Hadits). Sungguh sebuah nikmat yang tidak terukur dan ternilai jumlah dan besarnya.

Salah satu tujuan ibadah kita kepada Allah SWT, terutama terkait dengan pelaksanaan zakat, infaq, dan shadaqah; adalah dalam rangka menebarkan rasa kasih sayang dan cinta. Oleh karena zakat, infaq, dan shadaqah itu, salah satu tujuannya adalah untuk membangun kecintaan, maka tidak sepantasnya ketika kita berinfaq, kemudian kita memberikan yang buruk, sesuatu yang tidak kita senangi dan tidak kita cintai. Karena pada dasarnya, memberikan infaq dalam bentuk sesuatu yang buruk itu, sesungguhnya adalah lahir dari rasa keterpaksaan, bukan lahir dari rasa kecintaan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 267: ”Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Pada zaman dahulu, para sahabat nabi berlomba-lomba untuk berinfaq dan bershadaqah dengan sesuatu yang mereka senangi dan cintai. Sebagai contoh, sahabat Utsman bin Affan mengeluarkan infaqnya sebesar 100 ekor unta. Padahal kalau dinominalkan dengan rupiah, maka infaq yang beliau keluarkan + sebesar 2 milyar rupiah. Karena per-ekor harga unta sekarang + 20 juta rupiah. Sehingga dengan perilakunya ini turunlah firman Allah yang terdapat dalam QS. Ali Imran ayat 92: ”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Demikian pula sebaliknya, Allah SWT sangat membenci pada orang-orang yang bershadaqah atau berinfaq, yang disertai dengan cacian, ejekan, hinaan, mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor pada orang yang kita beri infaq. Karena pada dasarnya, infaq yang demikian bukanlah atas dasar kecintaan, akan tetapi semata-mata karena terpaksa saja. Hal ini sebagaimana tergambar pada firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 263-264: ”Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

Pada ayat-ayat tersebut di atas (QS. 2: 263-264), sesungguhnya merupakan satu dorongan yang sangat kuat, bahwa para amil zakat pun ketika dia mengambil zakat dari muzakki dan ketika dia melayani para mustahiq (memberi zakat, infaq, dan shadaqah), juga harus didasari atas dasar kecintaan kepada mereka; mengambil zakat atas dasar kecintaan pada muzakki, agar muzakki dalam kehidupannya, tidak celaka dunia dan akhirat; demikian pula ketika memberikan pelayanan kepada para mustahiq, orang yang berhaq untuk menerima zakat, juga harus dilandasi rasa kecintaan, bukan sebagai kewajiban semata-mata; kecintaan karena ingin mendorong mereka (mustahiq), agar mereka dapat memenuhi kebutuhannya, agar anak-anaknya dapat bersekolah dan agar dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Jalinan cinta dan kasih sayang inilah yang perlu dibangun antara amil denga mustahiq, disamping tentu dengan muzakki. Insya Allah kalau hati dan kecintaan bertemu, maka akan menjadi sebuah kekuatan yang sangat dahsyat. Itulah salah satu peran utama dari amil zakat, baik yang tergabung dalam Badan Amil Zakat (BAZ) maupun juga yang tergabung dalam Lembaga Amil Zakat (LAZ).

Sumber: http://www.pkesinteraktif.com/content/view/3109/219/lang,en/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: